Senin, 07 April
2014
Hari yang ditunggu, sepertinya akan jadi salah satu hari yang
membuat bahagia. Pagi yang cerah sedikit gerimis dan mendung tak seperti biasa
berangkat ke Sekolah tempat raktek lapangan lebih pagi, kebetulan kelompok
praktek kebagian jadi petugasnya dan saya jadi pemimpin upacara. Sebenarnya sih
bukan hal itu yang bikin bahagia, tapi bahagia akan sebuah janji yang jarang
terjadi. Niatnya sih ga ngajar karena janji itu, tapi masih banyak waktu untuk
memenuhi janji itu ya ngajar dulu... janjian jam 10, jadi ketemunya jam
12.15an. Umi Kulsum saya panggil, entah kenapa nama itu tiba-tiba muncul tapi
bukan berarti karena kebawelanya, ke cerewetanya, ke jutek dan judesnya apalagi
marahnya.. tapi enak aja manggil nya UMI Kulsum, pas bagian Umi nya itu loh...
singkat cerita, kita ketemuan dan janjian diterminal, tadinya sih saya ngajak
ketemuan deket kampus, karena kalo keterminal muter dulu.. tapi, umi nya minta
ke terminal aja, yaudah mau gmana lagi ga enak juga perempuan yang nyamperin...
Tujuan pertama adalah keluar Kota, aga lebay sih tapi bener kan dari Serang ke
Cilegon beda kota. Dengan ketidaktahuan saya akan tempat yang dituju saya ikuti
instruksinya aja arah jalanya kaya mamang ojek,, saya bangga dibilang mamang
ojek, tapi ojek cinta. Tibalah disebuah tempat di Cilegon, ternyata tempat
bahan baku kerajinan, ada akrilik yang dibuat jadi bros, gantungan kunci yang
terbuat dari bahan kain dan banyak lagi. Seneng nih diajak ketempat kaya gini,
serasa unik gimana gitu tempatnya, ga salah umi ngajak ke tempat kaya gitu.
Sambil belanja Umi belajar juga membuat bros untuk mengingatkan
materi terdahulu yang telah ia dapatkan. dan tahukah anda akan hasilnya? GAGAL,
Ga RAPIH! Haha,, senangnya saat itu bisa ngeledek.. (Muka Jahat). Tapi
ledekanya juga dibarengi rasa "------", jadi ga beneran ngeledeknya.
kan "Hidup dengan pasanganmu hiasi dengan penuh warna" kata
saya. jadi ledekan itu untuk menambah akrab aja sih sebenernyamah dan biar
hidup ini ga datar selalu ada hal yang menyenangkan. Sebelum Ashar kami
meninggalkan tempat kerajinan tersebut, niatnya sih mau pulang karna udah sore
juga. Tapi kumandang Adzan Ahsar sudah tiba, akhirnya sambil naik motor mencari
Masjid, tapi pilihannya ternyata Masjid Agung Cilegon.
Kata
yang masih saya ingat dan akan tetap saya ingat adalah “Shalat ke Masjid Agung
ini berharap menemukan jodoh” dan satu impian kami yang sama adalah ingin
Shalat di Masjid Agung yang ada di Indonesia. Cita-cita dan keinginan yang aneh
memang, dan bisa kapelan gitu. Jadlah hayalan saya yang selanjutnya. Udah sore
nih jam 4, saatnya pulang. Eh keluarah Ide gokil “Ingin ke Pantai” si Umi nya,
dia inget perkataan saya dulu yg bilang kalau ke pantai dari Cilegon deket Cuma
sentengah jam, makanya pengen kepantai. Padahal pulang dari pantai bisa
kemaleman, mana malemnya Umi ada rapat KPPS jam 7. Itu adalah kebijakan yang
berat yang harus saya pilih, Antara keinginan dan kebaikan! Huuuuft, akhirnya
keinginanlah yang menang, kapan lagi kan bisa ngebuat Umi bahagia. Mungkin nanti-nanti
mah suaminya yang bakal ngebahagiainya, nah kita kapan? Inilah waktu yang
tepat.
Dengan
sedikit mendung dan dingin menerpa, perjalanan dilanjutkan untuk melihat sang
mentari tidur di pantai. Dan benar dari firasat mendung, hujan akhirnya turun
juga. Meneduhlah disebuah tempat yang melindungi dari basahnya hujan. Tidak lama
setelah meneduh tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ‘teng tong’. Dan apakah isi
pesan itu? Ternyata SMS! Dari Umi lagi. Sms nya Allah tidak mengizinkan kita
kepantai. Tapi Cuma sekedar sms, hujan udah reda tetep lanjut ke
pantainyamah.
Cape?
Banget, Ngantuk? Iah… mana bawa motornya disuruh ngebut aja lagi ga sabaran
buat liat laut. Tuh sifat jelek Umi keluar! Ga sabaran.
Letih
lelah yang dirasa bisa hilang loh! Ketika melihat orang yang kita “……“ seneng
dan bahagia. Yang saya rasakan sih gitu, ngeliat Umi seneng amat luar biasa
ketika melihat laut. Tapi itu belum ke pantai tujuan kami. Biasa sifat ga
sabaran Umi muncul lagi dan pengen cepet-cepet nyampe.
Nih pantainya,
indah ga indah tapi udah bikin Umi seneng itu juga udah cukup kok!
Dan tahu ga? Mengajak Umi ketempat ini tuh hayalan 2 tahun
yang lalu. Dulu pernah ngajak tapi jawabanya itu ia mau tapi dengan “Suami”,
dan sekarang jadi kenyataan meski dengan saya.
Ternyata yang membuat sedih dan akan teringat terus adalah,
Kesedihan yang diselimuti kebahahgiaan, sebahagia apapun tak akan pernah terasa
karena didalamnya selalu ada kesedihan.
Pura-pura tegar dan menahan air mata. Disana sadar dengan
dugaan sebelumnya dari sebuah ungkapan “jangan berharap pada bunga yang akan
jatuh dari tangkainya”. Disaat itulah, tekad yg kuat tercipta. Semua bunga kan
jatuh dari tangkainya, dan sebuah bunga akan jadi penghias terindah dalam hidup.
Takan disia-siakan waktu yang ada untuk merawatnya sehingga terlihat tetap
cantik dan menawan.
Bersedih-sedih rianya sudahan, tinggal bagaimana caranya
membuat hidup ini selalu bahagia dan monoton. Dipantai niatnya sebentar, tapi
pesona sang mentari yang akan tertidur begitu menarik hati. Akibatnya datang di
Serang jam 20.00 WIB.
Maaf untuk kali ini tidak bisa mengantarkan sampai kedekat
rumah, karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Sakit yang kurasa memag
tidak semua orang tahu dan sadar karena biasanya selalu ku memaksakan diri. Tapi
untuk kali ini tak seperti biasanya! Maaf UMI :-D
Satu hal yang ingin hati ini sampaikan, semoga tujuan Umi
memberikan yang terbaik untuk suami Umi nanti bisa tercapai. Betapa bersyukurnya
lelaki yang nantinya akan menjadi Imam dalam hidup Umi.





Posting Komentar